Indah Pada Waktunya

Engkau masih ingat pohon jeruk yang engkau tanam di depan rumah itu? Kini, tingginya sudah selututku. Duri-durinya sudah cukup kuat untuk menusuk kulit tanganku. Aku mengaduh segaduh-gaduhnya saat duri itu menembus kulitku. Daunnya hijau. Ada hijau muda. Ada hijau tua. Beberapa helai daun nampak terkikis. Seperti ada yang menggerogoti. Tentu itu ulah si ulat. Tubuhnya hijau dan gemuk-gemuk. Aku jijik dan geli melihatnya. Berkali-kali aku mohon sudi kiranya engkau mencabut pohon jeruk itu.

Tentu, aku masih ingat dengan pohon jeruk itu. Aih…tak aku sangka pohon jeruk itu akan menyakitimu. Merusak jari tanganmu yang mungil. Biarlah nanti aku potong-potong durinya menjadi serpihan-serpihan kompos. Kalau ada semangka tanpa isi, maka akan ada pohon jeruk tanpa duri. Keren, kan? Continue reading

Advertisements
Posted in Catatan | Tagged , , , , | Leave a comment

Jangan Main-Main Dengan Ludahmu!

Ada segumpal air liur yang ingin aku keluarkan. Disebut air liur karena ia masih di dalam mulut. Jika ia telah keluar maka disebut ludah. Proses perubahan air liur menjadi ludah disebut dengan meludah. Sampai di sini engkau paham, bukan?

Meludah adalah perbuatan yang begitu sepele. Tapi perbuatan se-sepele apapun perlu kehatian-hatian. Sekali lagi aku katakan, “Perbuatan se-sepele apapun perlu kehatian-hatian.” Aku akan menceritakan sebuah kisah untuk menunjukkan kepadamu betapa kata-kataku di atas perlu engkau camkan dengan hikmad.

Alkisah, ada segumpal air liur yang ingin aku keluarkan. Gumpalan air liur itu sudah berkumpul di ujung mulut. Siap untuk diluncurkan. “Cuuhhh…,” ibarat peluru lepas dari moncong senapan, air liur itu melesat ke luar. Cepat menyibak udara. Sayang geraknya terhenti. Tubuhnya tak sampai mencium ibu pertiwi. Tubuhnya terhempas menabrak kaca bening. Tubuhnya muncrat tercerai-berai. Meleleh terseret gravitasi. Semua itu terjadi tepat di depan wajahku. Di depan mataku!

Betapa tidak? Bayangkan, sesorang pemuda mengendarai motor dengan gagah. Helm keren menutup kepala dengan kaca helm tertutup. Pemuda itu meludah tetapi cukup bodoh untuk tidak membuka kaca helm.

Surabaya, 20 Januari 2017

Posted in Cerpen | Leave a comment

Mimpi-Mimpi

Semalam aku bermimpi. Mimpi yang menyakitkan. Aku tidak bisa mengingatnya secara utuh. Aku hanya mengingat bagaimana Diajeng mendorong tubuhku dari tempat tidur. Tangannya sungguh besar hingga mencengkeram leherku dengan sempurna. Dia berusaha mendorong tubuhku yang terbaring di atas ranjang. Aku hampir jatuh. Aku telah berada di bibir ranjang. Aku melihat lantai. Sungguh tidaklah tinggi jaraknya dari bibir ranjang. Kalau pun aku jatuh rasanya tidak akan menyakitkan. Namun, aku begitu ketakutan. Amat ketakutan.

Aku meronta. Berontak sekuat tenaga. Tanganku berusaha melepas cengkeraman tangan Diajeng. Memukul-mukul tangannya. Tapi tangan itu begitu kuat. Aku berusaha menggapai sesuatu supaya aku tidak terjatuh ke lantai. Tapi tidak ada yang dapat aku gapai. Semua ronta berbarengan dengan berbagai teriakan dan jeritan histeris. Aku tidak ingat apa yang aku teriakkan. Tapi aku telah berusaha berteriak dengan segenap tenaga. Memuntahkan segenap suara yang ada dalam kerongokangan. Aku menjerit. Namun tidak ada suara yang keluar dari mulut. Aku berusaha menghimpun tenaga lagi dan mencoba berteriak. Mencoba lagi. Lagi dan lagi. Aaachhhh…. Tapi gagal.

Nafasku tak beraturan. Peluh bercucuran. Basah. Continue reading

Posted in Catatan | Tagged , , , , | Leave a comment

Tanpa Diminta Tanpa Diketahui

Pesan suara itu dikirim olehnya. Kami buka pesan itu. Maka terdengarlah suaranya yang sedang memanjatkan doa di seberang sana. Ia berdoa bukan di sembarang tempat. Ia berdoa di tempat yang paling mustajabah di bumi. Di tanah suci. Di Masjidil Haram, Mekkah. Sebuah doa yang dipanjatkan untuk kami.

Tanpa diminta. Kami tidak meminta ia untuk mendoakan kami. Kami juga tidak menitipkan doa khusus kepadanya sebagaimana orang-orang menitipkan doa tatkala seseorang hendak berangkat ke tanah suci. Apa yang dilakukannya adalah inisiatifnya sendiri.

Sangat jarang kami berdoa untuk orang lain. Biasanya, kami mendoakan orang lain tatkala orang tersebut meminta kepada kami. Terkadang, kami tahu seseorang sedang mengalami kesusahan. Tetapi kami belum secara sadar, mendoakannya. Kami baru tergerak ketika orang tersebut meminta kepada kami. Dalam satu hari rasanya akan ada satu dua hal yang terjadi pada diri sendiri atau orang lain. Satu dua hal yang mungkin bisa dibawa ke dalam doa di setiap salat. Continue reading

Posted in Catatan | Tagged , , , , | Leave a comment

Alkisah Tentang Suntik Meningitis

Kami tiba di Kantor Kesehatan Pelabuhan sekitar pukul 07.30 WIB. Tidak terlalu sulit mencari kantor ini. Papan nama bertuliskan “KKP” terpajang di depan gedung dengan ukuran cukup besar. Kalau pun ada kesulitan adalah ukuran gedungnya yang terbilang minimalis sehingga sulit terlihat oleh postur mata normal. Kami harus mendelik demi menemukan kantor ini. Sangat kecil untuk ukuran sebuah kantor yang diperuntukkan untuk pelayanan publik.

Sebenarnya datang lebih pagi lebih baik. Dari informasi yang kami dapat, jatah suntik meningitis dalam satu hari di kantor ini dibatasi. Untuk mendapat jatah tersebut, datang lebih pagi untuk mendapat antrian awal adalah keharusan. Mungkin keterbatasan ini karena statusnya sebagai kantor kelas II.

Kami langsung masuk ke ruang utama, menuju bagian pendaftaran. Bagian pendaftaran, sebagaimana gedungnya, sangat minimalis. Hanya seonggok meja dan kursi kecil berdiri di tengah kepadatan ruangan. Kami diberi form kecil berjumlah dua halaman untuk diisi. Isiannya cukup mudah. Isiannya hanya seputar data diri, negara yang dituju, tanggal berangkat, dan lain-lain yang tidak akan membuat kepala pening. Setelah selesai, form tersebut diserahkan kembali ke bagian pendaftaran disertai fotocopi paspor satu lembar. Selanjutnya, anda hanya perlu mempersiapkan telinga dengan sebaik-baiknya untuk saat dimana nama anda dipanggil. Continue reading

Posted in Catatan | Tagged , , , , | Leave a comment

Kepada Pak RT Yang Masih Jomblo

Adzan isyak telah berkumandang. Puji-pujian menyusul kemudian. Iqamah membuat setiap langkah menuju masjid semakin cepat. Suara imam dari masjid telah terdengar dari pengeras suara. Alam melakukan wirid dipimpin sang imam. Satu persatu jamaah salat keluar masjid. Kembali ke haribaan rumah. Kembali kepada dekapan hangat yang merindukan. Bercengkerama dengan istri atau anak-anak atau cucu-cucu. Aku siap berangkat demi sebuah undangan.

Beberapa hari lalu selembar surat undangan tiba. Surat undangan dengan status ‘penting’ itu berasal dari pak RT yang mengharap kehadiran warga dalam rapat pemilihan pengurus RT baru. Sebagai warga yang baik, tentu aku siap untuk hadir. Aku dan Diajeng adalah warga baru. Kurang lebih sudah satu setengah tahun kami menghuni rumah sendiri yang ada di dusun ini. Status sebagai warga baru membuat kami mencari cara untuk terkenal. Salah satunya menghadiri setiap undangan yang mampir ke rumah kami.

Keberangkatanku ke acara itu bukannya tanpa masalah. Diajeng bahkan mewanti-wanti supaya aku berhati-hati. adalah

Awas lho…, sampeyan jangan mau kalau dicalonkan jadi ketua RT?” kata Diajeng.

Kekawatiran Diajeng tak salah. Jauh sebelumnya, namaku sudah digadang-gadang untuk menjadi ketua RT. Orang yang menggadang-gadang justru ketua RT yang sedang menjabat sekarang. Pak Hasan namanya. Pak Hasan sudah mengurus lingkungan RT ini selama dua periode. Lingkungan RT dengan segala permasalahannya membuat pak Hasan jengah yang mengarah kepada stres. Sehingga menghalalkan segala cara untuk lengser dari kursi ketua RT. Termasuk menyebut-nyebut namaku secara membabi buta. Setidaknya menurutku. Continue reading

Posted in Cerpen | Tagged , , , , | Leave a comment

Membuat Paspor Secara Online

Saya memiliki paspor yang sudah habis masa berlakunya Agustus 2015 lalu. Keinginan untuk memperpanjang selalu saja tertunda. Atau ditunda. Karena tahun ini ada sebuah rencana untuk melakukan perjalanan ke luar negeri lagi, akhirnya saya harus mengurus paspor yang telah mati tersebut.

passport_332FF0A53BFDBD6CF7A101881Perjalanan ke luar negeri, saat tulisan ini ditulis, masih sebuah rencana. Saya akan bepergian bersama Diajeng yang belum memiliki paspor sehingga harus membuat paspor baru terlebih dulu. Supaya tidak bolak-balik ke kantor imigrasi dan memakan waktu, pengurusan paspor dilakukan berbarengan. Saya memperpanjang paspor sementara Diajeng membuat paspor baru. Efeknya, biaya pengurusan menjadi lebih besar. Tak apalah, daripada saya harus bolak-balik ke kantor imigrasi.

Pengurusan paspor dilakukan secara online. Alasannya lebih praktis dan lebih santai. Anda bisa mengisi form aplikasi paspor sambil minum kopi atau teh. Sesuatu yang sulit dilakukan jika anda memilih pengurusan paspor secara walk-in. Selain itu bisa menghemat waktu karena bisa dilakukan di sela-sela kesibukan pekerjaan. Continue reading

Posted in Catatan | Tagged , , , , | Leave a comment