Kunci Sukses

Kami sempat terlibat pembicaraan kecil saat melakukan check-in di bandara Hang Nadim, Batam. Kami akan terbang menuju Surabaya saat itu. Sebuah pembicaraan yang ringan. Sebuah sapaan yang sudah umum dalam satu antrian di counter sebuah maskapai penerbangan. Kami akan berada di satu pesawat.

Yang tidak saya sangka adalah, ternyata kami duduk di baris yang sama di dalam pesawat. Dia duduk di dekat jendela. Teman saya, Sunardi, duduk di tengah. Sementara saya duduk di pinggir dekat lorong.

Yang tidak saya sangka lagi, dia adalah lelaki yang sangat cerewet. Setelah kami duduk, mulutnya selalu saja mengeluarkan kata-kata dengan intensitas yang cukup tinggi. Dia berbicara tentang berbagai hal. Apa saja dia bicarakan mulai dari hal yang besar sampai hal yang kecil sekalipun. Ada saja hal yang dibicarakan dan dikomentari. Hebatnya, Sunardi, teman saya sangat antusias berbicara dengannya. Saya hanya sesekali terlibat pembicaraan. Selebihnya saya membaca majalah atau novel yang saya bawa. Beruntung, saya tidak duduk bersebelahan dengannya.

Entahlah, saya selalu tidak suka dengan lelaki yang cerewet. Seorang perempuan cerewet? Oke-lah… karena dengan kecerewetannya seorang perempuan akan lebih nampak keperempuanannya. Tapi ini seorang lelaki! Seorang lelaki yang cerewet akan lebih nampak membual. Itu yang saya rasakan. Mungkin saya menderita penyakit tidak waras. Tidak waras adalah sebuah level mendekati gila. Di usia saya yang menginjak 28 tahun, sudah banyak saya jumpai lelaki yang cerewet. Dan saya selalu kurang respect dengan tipe lelaki seperti ini.

Batam menuju Surabaya ditempuh dalam waktu sekitar dua jam. Selama itu dia sangat aktif. Aktif berbicara, aktif mendengarkan, dan aktif mengomentari. Walaupun saya kurang respect, walau pun saya lebih suka bergumul dengan majalah, adalah omong kosong jika saya tidak mendengar dan memperhatikannya.

Dia adalah seorang lelaki dengan perawakan tinggi. Tidak gemuk juga tidak kurus. Dia mengenakan jaket jeans dipadu dengan celana pendek selutut dari bahan jeans. Sepatu menutupi kakinya. Gaya pakaiannya gaul dan funky. Gaya bicaranya ceplas- ceplos, mengalir tanpa beban. Slengekan, khas orang Jawa Timur. Dia pernah tinggal di Nganjuk dan Malang.

Dia adalah wiraswastawan yang menggeluti bidang budidaya tanaman. Nursery bahasa kerennya. Dia memberikan kartu nama kepada saya. Di situ tertulis namanya, nama usahanya, nomer telepon dan email, dan layanan yang diberikan. Dia menyediakan pohon pelindung, pupuk, kompos, bibit buah-buahan, adhenium, pohon penghijauan, dan rumput. Usahanya ini terbilang sukses, katanya. Beberapa daerah pernah disuplai olehnya. Dia juga menunjukkan kepada kami foto-foto tanaman hiasnya yang tersimpan di dalam kamera.

Satu hal yang berkesan bagi saya adalah sebuah kalimat yang dia lontarkan tatkala menjawab pertanyaan Sunardi.

Sunardi bertanya, “Apa kunci suksesmu?”

Dengan cengengas-cengenges, dia menjawab, “Saya hanya memegang filosofi ‘tanamlah sebanyak-banyaknya bibit sebelum engkau ditanam’.”

Di antara bualannya, ini yang paling bagus. Sebuah kalimat, yang menurut Sunardi, sangat filosofis sekali. Di balik hal-hal yang berbau filosofis selalu terkandung makna yang dalam. Maknanya adalah, sebelum kita mati dan dikubur oleh orang lain hendaknya kita telah mananam bibit yang banyak. Bibit itu dapat ditanam di manapun terutama dekat dengan liang lahat. Ini untuk menghindari longsornya liang lahat. Jika longsor maka kita akan sulit terhindar dari prasangka orang bahwa kita tengah menghadapi azab Ilahi. Maka menanamlah bibit sebanyak-banyaknya sebelum kalian mati.

Perlu diketahui, selain mengidap penyakit tidak waras, mungkin saya juga mengidap penyakit filosofisme. Penyakit sok filosofis!

Surabaya, 16 Desember 2011

  1. No trackbacks yet.

You must be logged in to post a comment.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.