Kunci Bahagia
“Alit, kesini kamu!” pak Jus setengah berteriak.
Saya menoleh dan melangkah mendekatinya. Pak Jus, demikian lelaki itu dipanggil, adalah seorang lelaki berperawakan kekar. Dari perawakan dan logat bicaranya sudah dapat dikenali bahwa pak Yus adalah orang timur. Pak Yus berasal dari Menado. Hanya saja ia telah menetap dan tinggal di Jakarta. Warna kulit coklat tua. Wajahnya dibentuk oleh sudut-sudut yang jelas. Rambut berombak dihiasi oleh warna putih. Umurnya memang cukup tua. Tapi tingkahnya masih seperti anak muda. Tegas, cekatan, dan supel.
“Duduk kau!”
Aku duduk di sampingnya.
“Maukah engkau aku beri nasehat?”
“Tentang apa pak Jus?”
“Tentang hidup bahagia. Hidup bahagia itu ada kuncinya. Engkau ingin tahu?”
Segera aku mengantongi ponsel demi melihat keseriusan yang ditunjukan pak Jus. Aku tidak tahu mengapa pak Jus berbicara tentang ini dengan tiba-tiba. Aku seperti anak kecil yang siap mendengarkan sebuah dongeng tentang putri cantik.
“Ada dua kunci bahagia dalam hidup ini. Dua kunci itu ditentukan oleh tiga jari ini,” ia mengangkat telapak tangan kanannya. Lalu melipat jari kelingking dan jari manis ke dalam. Kini tinggal jari tengah, telunjuk, dan ibu jari yang masih terbuka.
“Pertama,” pak Jus meneruskan, “ini…”
Pak Jus menempelkan ujung ketiga jarinya yang masih terbuka. Lantas menggesek-gesekan ketiganya.
“Engkau mengerti?”
“Ya,” aku mengangguk.
Gerakan jari yang ditunjukkan pak Jus mengacu pada uang. Siapa yang tidak butuh uang? Apalagi di jaman seperti sekarang. Semua telah diukur dengan uang. Uang adalah kunci kebahagiaan lahir dalam hidup ini. Siapa yang tidak punya uang, bersiap-siaplah untuk tidak bahagia. Bersiap-siaplah untuk tidak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai. Bersiap-siaplah untuk tidak sekolah. Bersiap-siaplah untuk tidur di kolong jembatan. Bersiap-siaplah untuk menderita.
“Itu yang pertama. Engkau ingin tahu yang kedua?” pak Jus berkata.
“Apa pak Jus?”
“Kedua…ini…” pak Jus berkata seraya menggerakkan jarinya. Kali ini ibu jari menelusup di antara pangkal jari telunjuk dan jari tengah. Lalu jari telunjuk dan jari tengah dilipat ke dalam.
Aku tertawa.
Pak Jus hanya tersenyum sambil menatapku.
“Engkau tahu maksunya, kan?”
Aku mengangguk dan masih tertawa.
“Itu kunci hidup bahagia, Alit. Pertama, uang. Kedua,…tak perlulah aku sebutkan.”
Surabaya, 06 Desember 2011
No trackbacks yet.