Sabtu, 21 Maret 2009.
“Apa keluhannya?” tanya dokter. Seorang wanita cantik yang tergolong masih muda. Kerudung dan kacamata menghiasi wajahnya yang bulat.
“Sakit gigi, Dok,” jawabku.
Dokter cantik tersenyum. “Iya, saya tahu. Semua orang yang datang kepada saya, ke ruang ini, hampir dapat dipastikan sakit gigi. Setidaknya memiliki masalah dengan gigi,” kata dokter cantik dengan sabar. Aku berlagak bodoh. “Maksud saya, bagian mana yang sakit dan apa yang dirasakan?”
“Beberapa minggu yang lalu,” aku mulai bercerita, “saya sakit gigi. Gigi geraham sebelah kiri paling belakang. Cukup lama sakitnya, hampir dua minggu. Setelah itu, sembuh dengan sendirinya. Benar-benar sembuh, tidak ada rasa sakit. Tetapi, seminggu yang lalu kambuh lagi. Walau, sakitnya tidak seberapa parah daripada edisi pertama. Dan, jika gigi digesek-gesekan dengan sesamanya, ada rasa sakit yang timbul. Cenat-cenut rasanya.”
Dokter cantik menyimak keteranganku. “Sejauh ini apa yang dilakukan? Obat apa saja yang sudah diminum?”
“Sejauh ini saya tahan saja. Kalau tidak tahan, baru saya minum obat, Oskadon.”
“Sejauh ini, berapa butir yang telah dihabiskan?”
“Enam sampai tujuh butir, saya rasa.”
“OK. Saya periksa dulu. Silakan!” dokter cantik mempersilakan untuk berbaring di sebuah kursi khusus untuk pasien sakit gigi. Seorang asistennya sibuk menyiapkan berbagai peralatan.
Kursi pembaringan tersebut dilengkapi dengan sebuah lampu sorot yang menyilaukan mata. Di sisi lain, seperangkat peralatan medis tergeletak rapi. Ada semacam cermin mini dengan tangkainya. Ada peralatan-peralatan menyerupai catut dengan ujung-ujungnya yang runcing. Ada peralatan bor dan sprayer. Beberapa nampan berisi kapas, pembalut, dan jarum-jarum kecil. Belum lagi cairan-cairan dalam botol-botol kecil. Di samping kiri kursi pembaringan ada sebuah wastafel kecil.
Aku berbaring dan berusaha setenang mungkin.
Dokter cantik mulai beraksi. Aku diminta berkumur terlebih dahulu. Daerah dagu, di bagian bawah gigi geraham, menjadi sasaran pertama. Dokter cantik meraba-raba daerah tersebut seperti mencari sesuatu yang hilang. Jari-jarinya halus menyentuh lekuk-lekuk daguku. Gerakan jarinya lincah bagaikan seorang pianis. Persis di titik di bagian bawah gigi geraham sebelah kiri, gerakannya berhenti. Lalu, dokter cantik menekan titik tersebut. Aku meringis.
“Sakit?” tanya dokter cantik.
“Ya.”
“Coba menoleh ke kanan!” pinta dokter cantik, lalu menekan kembali titik yang sama.
“Sakit?”
“Ya.”
“Ning, kursinya diturunkan!” perintah dokter cantik kepada sang asisten sementara dokter cantik menggunakan sarung tangan dan penutup hidung.
Kursi pembaringan turun secara hidrolis ketika wanita yang dipanggil ‘Ning’ menekan sebuah tombol. Sejenak aku merasa terhibur.
“Buka mulutnya!” perintahnya. Dokter cantik mulai mengamati barisan gigiku. Tangan kiri memegang cermin mini sedangkan tangan kanan memegang alat semacam catut.
“Sakit?” tanya dokter cantik setelah memberikan tekanan-tekanan kecil dengan catut di beberapa titik gigi gerahamku yang sakit.
“Hiihhaaarggah…,” jawabku sambil menggelengkan kepala pelan. Kawan, bagaimana mungkin aku bisa bersuara dengan jelas dalam kondisi mulut menganga dengan dua benda asing di dalamnya?
“Sakit?” tanya dokter cantik lagi setelah memberikan tekanan-tekanan kecil di titik yang lain.
“Hhaaarggh…,” jawabku. Dokter cantik mengerti ucapan ‘ya’-ku.
Selanjutnya, berbagai peralatan yang tidak aku ketahui namanya memasuki mulutku. Dokter cantik mengorek berbagai sudut gigi gerahamku. Lalu, dokter cantik beralih ke alat bor, mencobanya sekali. Alat itu menderu persis seperti sepeda motor yang sedang digas. Alat itu terhubung dengan selang-selang dan kabel-kabel ke kursi pembaringan. Ada tiga jenis alat serupa itu dengan fungsi yang berbeda. Salah satunya sebagai sprayer yang menyemprotkan air.
Aku rasa dokter cantik hendak mengebor gigi geraham. Alat itu menderu di dalam mulutku, menggerus gigi geraham yang telah berlubang. Sementara Ning membantu dengan menyemburkan sprayer ke arah geraham.
“Tolong berkumur yang keras,” pinta dokter cantik setelah selesai.
Dokter cantik meminta aku untuk membuka mulut lagi. Dan, alat bor itu bergoyang di atas gigiku lagi. Selesai, aku diminta berkumur lagi. Begitu seterusnya sampai beberapa kali.
Setelah proses pengeboran selesai, dokter cantik beralih ke deretan jarum-jarum kecil yang telah disiapkan oleh Ning. Jarum ini mirip jarum pentul yang sering digunakan para penjahit. Hanya saja bentuk pentulnya tidak bundar tapi bulat panjang seperti tabung. Warnanya beraneka ragam, kuning, biru, merah, putih. Batang jarumnya lebih besar dan lebih pendek daripada jarum pentul. Secara keseluruhan cukup mungil dan indah. Tentu jika digunakan sebagai hiasan. Aku menyebutnya; the lovely needles.
Sedari awal aku pasrah. Sangat pasrah. Seperti Amrozi yang menghadapi regu tembak. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan dokter cantik kepadaku dengan the lovely needles di tangannya yang lentik. Dokter cantik menenteng satu buah jarum menuju mulutku. Jarum itu berdiri di dalam lubang kecil hasil pengeboran tadi. Selanjutnya, terjadilah penyiksaan.
Dokter cantik memutar dan mendesak jarum itu. Sesekali tangannya naik untuk mencabut keluar jarum itu, lalu menancapkannya lagi. Memutar lagi. Mendorong lagi. Beberapa kali. Mili demi mili jarum itu menyeruak di dalam gigi. Engkau pernah memperhatikan seorang tukang kayu yang menancapkan sekrup ke batang kayu dengan obeng? Dokter cantik ini lebih terampil dibanding tukang kayu dalam hal ini!
Aku sempat memperhatikan dokter cantik yang begitu kerepotan. Berulang kali posisi duduknya berubah. Berusaha mendapatkan posisi yang nyaman sehingga tangannya dapat melakukan penetrasi ke dalam gigi. Aku tidak tahu apa tujuan dokter cantik melakukan ini semua.
Aku terkejut. Aku kaget. Aku meringis. Jarum itu telah menyentuh dasar gigi geraham, aku rasa. Dan, sakit yang ditimbulkan, sungguh tidak terperikan. Sebaliknya, dokter cantik cukup bahagia dengan kondisiku. Dia mencabut jarum itu. Selesaikah? Belum. Dokter cantik mengambil jarum yang lain. Menancapkan lagi ke gigi geraham. Jari tangannya bergerak memutar, menekan, naik, dan turun.
Di atas, agak ke depan, menempel di dinding, ada televisi. Posisi kepalaku yang bersandar menengadah di bantalan kursi sangat pas menghadap televisi. Sebuah acara reality show sedang berlangsung. Aku berusaha mengurangi rasa sakit dengan mengalihkan perhatian dengan menonton acara tersebut. Sementara dokter cantik masih dengan suka cita bermain-main dengan gigi geraham. Terbersit di pikiranku, seandainya acara televisi tersebut berganti dengan film porno seperti yang aku tonton bersama teman-teman di lab semasa kuliah dulu, mungkin aku tidak terlalu merasakan sakit.
“Coba perhatikan ini,” dokter cantik menunjukkan jarum yang telah dicabutnya. Di situ tertempel cairan berwarna kekuningan; nanah.
Setelah berkumur untuk kesekian kali, dokter meletakkan gumpalan kapas di dalam lubang gigi geraham. Hal ini untuk mencegah masuknya kotoran, terutama saat makan.
“Baik, ini resepnya,” kata dokter cantik setelah pemeriksaan berakhir. “Yang ini antibiotik untuk menghindari infeksi di gusi, diminum 3 kali sehari. Yang ini untuk menghindari pembengkakan, diminum 3 kali sehari. Yang ini diminum jika timbul rasa nyeri saja. Sudah jelas?”
Aku mengangguk.
“Tiga hari lagi ke sini lagi untuk saya kontrol perkembangannya,” dokter cantik menambahkan.
Posted by superblacksampler on August 6, 2009 at 8:57 am
cantiknya segimana si bos?jd penasaran
posting dong potona (ngarep mode on)
hihiii
Posted by cah alit on August 11, 2009 at 5:05 pm
Waduh, aku gak berani foto. Ntar gigiku malah tambah besar lubangnya, hahaha…